PIDIE – Kemarahan warga Tangse, Mane, dan Geumpang, Kabupaten Pidie, kembali meledak. Mereka menyoroti dugaan aktivitas tambang ilegal di kawasan Gunung Singgah Mata yang disebut telah menggunakan alat berat jenis ekskavator (beko).
Warga menilai masuknya alat berat ke kawasan hutan merupakan persoalan serius. Mereka khawatir pengerukan tanah dan pembukaan kawasan akan merusak hutan, mengganggu sumber air, serta meningkatkan risiko longsor dan banjir.
“Beko sudah masuk ke gunung! Mana Polres Pidie? Mana Kasat Reskrim? Kalau benar ilegal, kenapa masih bisa beroperasi? Kami meminta Kapolri turun tangan dan mengevaluasi Kapolres serta Kasat Reskrim Pidie!” ujar warga dengan nada kecewa.
Warga juga mendesak aparat mengusut tuntas siapa pemilik alat berat, pemodal, serta pihak yang berada di balik aktivitas tersebut. Dugaan adanya “cukong” atau pihak yang membekingi harus dibuktikan melalui penyelidikan, bukan dibiarkan menjadi tanda tanya.
Bagi masyarakat, persoalan ini menyangkut masa depan hutan dan keselamatan warga.
Jika kerusakan kawasan hutan dibiarkan, masyarakat khawatir dampaknya dapat berupa banjir bandang, longsor, kerusakan sumber air, hingga kekeringan.
Karena itu, warga menyatakan sikap tegas:
TOLAK TAMBANG ILEGAL DI GUNUNG SINGGAH MATA!
Mereka juga menyampaikan tiga tuntutan kepada Kapolri:
1. COPOT KAPOLRES PIDIE DAN KASAT RESKRIM PIDIE!
Warga meminta evaluasi dan pertanggungjawaban atas penanganan dugaan aktivitas tambang ilegal di wilayah tersebut.
2. TURUNKAN BARESKRIM DAN PROPAM MABES POLRI KE PIDIE!
Warga meminta pemeriksaan dilakukan secara transparan, termasuk terhadap dugaan pembiaran apabila nantinya ditemukan bukti.
3. SITA ALAT BERAT DAN USUT PEMODALNYA!
Jika terbukti digunakan untuk aktivitas pertambangan ilegal, warga meminta alat berat diamankan dan seluruh pihak yang terlibat diproses sesuai hukum.
Kini masyarakat menunggu tindakan nyata, bukan sekadar janji.
Pertanyaannya sederhana:
Jika benar ada tambang ilegal dan alat berat sudah masuk kawasan hutan, siapa yang bertanggung jawab?
Warga Tangse, Mane, dan Geumpang meminta pemerintah serta aparat penegak hukum jangan membiarkan masyarakat berjuang sendirian menyelamatkan Gunung Singgah Mata.

















